
Jakarta – Tren diet modern semakin mudah ditemukan dan menawarkan berbagai cara untuk menjaga kesehatan. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa pola makan tradisional yang mengandalkan bahan pangan utuh dan tinggi serat justru dapat memberikan manfaat besar bagi kesehatan usus.
Diet sebaiknya memang tidak dilakukan secara sembarangan. Pola makan yang terlalu ketat hingga membuat tubuh kekurangan asupan justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.
Dilansir dari laman University of Alberta, penelitian internasional yang melibatkan peneliti dari University of Alberta, Kanada, menemukan bahwa pola makan tradisional memiliki potensi dalam memperbaiki kondisi mikrobioma usus sekaligus menurunkan sejumlah faktor risiko penyakit.
Annissa Armet dari Faculty of Agricultural, Life & Environmental Sciences (ALES) mengatakan, penelitian tersebut menemukan pola intervensi makanan yang mampu meningkatkan mikrobioma usus dan berpotensi mengurangi risiko diabetes serta penyakit jantung.
Utamakan Makanan Utuh dan Tinggi Serat
Pola makan tradisional yang dimaksud bukanlah diet dengan aturan rumit. Fokusnya justru pada konsumsi makanan yang minim proses, alami, dan kaya serat.
Sebaliknya, banyak makanan kemasan yang beredar di pasaran, termasuk produk yang dipasarkan sebagai makanan sehat, memiliki kandungan serat yang relatif rendah.
Padahal, serat merupakan salah satu sumber nutrisi penting bagi mikroorganisme baik yang hidup di saluran pencernaan. Jika asupan serat tidak mencukupi dalam jangka panjang, kondisi mikrobioma usus dapat terganggu dan berpotensi berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan.
Masyarakat Papua Nugini Jadi Salah Satu Contoh
Salah satu pola makan tradisional yang menjadi perhatian peneliti adalah kebiasaan makan masyarakat di Papua Nugini.
Masyarakat yang mengonsumsi makanan dengan kandungan serat tinggi diketahui memiliki keragaman mikrobioma usus yang lebih besar. Kondisi tersebut berbeda dengan pola makan khas masyarakat Barat yang cenderung lebih banyak mengonsumsi makanan rendah serat dan produk ultra-proses.
Jens Walter, profesor dari University College Cork, menjelaskan bahwa penelitian sebelumnya menemukan mikrobioma masyarakat Papua memiliki keragaman lebih tinggi. Mikrobioma tersebut juga banyak mengandung bakteri yang berkembang berkat asupan makanan kaya serat serta dikaitkan dengan tingkat inflamasi yang lebih rendah.
Bakteri Baik Usus Ikut Bertambah
Penelitian ini turut mengamati bakteri Limosilactobacillus reuteri (L. reuteri) yang diketahui memiliki peran dalam kesehatan saluran pencernaan.
Pola makan tinggi serat dapat membantu meningkatkan keberadaan bakteri tersebut di dalam usus. Sejumlah bahan pangan sederhana seperti kacang-kacangan, ubi, nasi, mentimun, kol, kacang polong, dan bawang bombai termasuk makanan yang dapat menjadi sumber serat.
Dengan memasukkan lebih banyak makanan nabati utuh ke dalam menu harian, kebutuhan serat sekaligus keragaman nutrisi dapat lebih mudah terpenuhi.
Tetap Butuh Protein dan Nutrisi Lain
Meski menekankan makanan tinggi serat, pola makan tradisional bukan berarti harus menghilangkan sumber protein hewani.
Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi, sejumlah makanan seperti ayam, salmon, daging babi, produk susu, maupun daging sapi dapat dikonsumsi sebagai pelengkap dalam jumlah yang sesuai.
Dengan demikian, pola makan tetap perlu dibuat beragam agar tubuh mendapatkan berbagai zat gizi yang dibutuhkan.
Bisa Menekan Bakteri Pemicu Inflamasi
Dalam penelitian yang melibatkan 20 orang dewasa sehat dari Kanada, penerapan pola makan tersebut menunjukkan adanya penurunan bakteri yang bersifat proinflamasi.
Temuan ini menunjukkan bahwa perubahan pola makan, terutama dengan meningkatkan konsumsi makanan utuh dan kaya serat, berpotensi memberikan dampak positif terhadap kondisi mikrobioma serta peradangan dalam tubuh.
Meski hasilnya menjanjikan, peneliti menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui dampak pola makan tradisional tersebut dalam jangka panjang.
Intinya, pola makan sehat tidak selalu harus mengikuti tren diet modern. Memperbanyak makanan utuh, alami, dan kaya serat seperti yang ditemukan dalam pola makan tradisional dapat menjadi salah satu cara untuk mendukung keragaman mikrobioma dan kesehatan usus.