
Nama Ferran Torres kembali menjadi sorotan setelah tampil impresif dan turut membawa Spanyol meraih gelar juara Piala Dunia FIFA 2026. Di balik performanya di lapangan, penyerang berusia 26 tahun itu juga menarik perhatian berkat pola makan yang dijalankannya selama musim kompetisi.
Torres diketahui menerapkan intermittent fasting atau puasa intermiten sebagai bagian dari rutinitasnya. Meski demikian, ia memiliki kebiasaan yang cukup unik saat hari pertandingan, yakni menikmati waffle dengan topping cokelat sebelum turun ke lapangan.
Ferran Torres Menjalani Intermittent Fasting
Intermittent fasting merupakan pola makan yang mengatur waktu makan dan puasa dalam satu hari. Salah satu metode yang paling banyak diterapkan adalah pola 16:8, yaitu berpuasa selama 16 jam dan makan dalam rentang delapan jam.
Berbeda dengan diet yang mengatur jenis makanan, metode ini lebih menitikberatkan pada jadwal konsumsi makanan.
Torres mengungkapkan bahwa ia biasanya menyelesaikan makan malam sekitar pukul 19.30 hingga 20.00. Setelah itu, ia tidak mengonsumsi makanan lagi hingga sekitar pukul 14.00 keesokan harinya.
Menurut pengakuannya, kebiasaan tersebut juga sempat diikuti oleh rekan setimnya, Pedri. Awalnya, Pedri merasa kesulitan beradaptasi, tetapi seiring waktu ia mulai terbiasa dan merasakan manfaat dari pola makan tersebut.
Intermittent fasting sendiri cukup populer di kalangan atlet dan pencinta kebugaran karena dinilai dapat membantu adaptasi metabolisme, pemanfaatan lemak sebagai sumber energi, serta mendukung pengelolaan komposisi tubuh. Namun, penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan energi dan intensitas latihan masing-masing individu.
Menu Berbeda Saat Hari Pertandingan
Meski terbiasa berlatih dalam kondisi berpuasa, Ferran Torres tidak mempertahankan pola tersebut ketika memasuki hari pertandingan.
Dalam sebuah wawancara di acara televisi Spanyol El Hormiguero, Torres dan Pedri mengungkapkan bahwa mereka memilih mengonsumsi waffle dengan topping cokelat putih sebelum pertandingan dimulai.
Menu tersebut dipilih untuk membantu memenuhi kebutuhan energi menjelang laga. Keduanya menjelaskan bahwa pendekatan nutrisi saat latihan memang berbeda dengan ketika bertanding karena tuntutan fisik yang dihadapi juga tidak sama.
Waffle menjadi sumber karbohidrat yang membantu mengisi cadangan glikogen sebagai bahan bakar utama saat berolahraga dengan intensitas tinggi. Sementara itu, penggunaan cokelat putih sempat menarik perhatian karena makanan tinggi lemak umumnya tidak menjadi pilihan utama menjelang aktivitas fisik berat akibat proses pencernaannya yang lebih lambat.
Alasan Atlet Tetap Mengonsumsi Waffle
Ahli gizi Roberto Oliver menjelaskan bahwa strategi makan atlet profesional tidak hanya didasarkan pada rasa kenyang atau kenyamanan saat berolahraga.
Menurutnya, performa di lapangan sangat dipengaruhi oleh ketersediaan energi, cadangan glikogen, kemampuan melakukan sprint berulang, menjaga intensitas permainan, hingga menunda munculnya rasa lelah.
Karena itu, kebutuhan nutrisi saat latihan dan pertandingan memang berbeda. Latihan dalam kondisi berpuasa dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi metabolisme, sedangkan pada hari pertandingan tubuh memerlukan pasokan energi yang cukup agar performa tetap optimal sepanjang laga.
Bagi Ferran Torres dan Pedri, kombinasi intermittent fasting selama masa latihan dengan konsumsi makanan tinggi karbohidrat sebelum pertandingan merupakan bagian dari strategi nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan tubuh pada setiap fase aktivitas.