
TIM arkeolog dari Israel Antiquities Authority dan University of Haifa berhasil mengungkap keberadaan gua purba berusia 400.000 tahun di pinggiran Fureidis, selatan Haifa, Israel. Situs ini menyimpan bukti aktivitas hominin yang mencakup rentang waktu krusial hingga 200.000 tahun lalu, saat wilayah tersebut menjadi titik temu geografis antara Eurasia dan Afrika.
Penemuan ini menyoroti fase awal kehidupan yang dibentuk oleh kompleks Acheulo-Yabrudian. Kebudayaan ini dikaitkan dengan kelompok pra-Neanderthal atau garis keturunan manusia purba tak bernama yang mendiami Asia Barat sebelum kemunculan Neanderthal dan Homo sapiens modern.
Berdasarkan data yang dihimpun, penelitian terbaru menunjukkan situs ini jauh lebih tua dari perkiraan awal pada tahun 1970-an. Penentuan usia didasarkan pada temuan alat batu serpih khas, seperti kapak genggam kecil, pengikis, dan bilah pisau. Para peneliti meyakini situs Fureidis memiliki nilai historis setara dengan Situs Warisan Dunia UNESCO, Nahal Me’arot.
Selain artefak batu, ekskavasi mengungkap sisa-sisa tulang hewan seperti rusa tegalan, gazelle, dan kuda kuno. Keberadaan sumber air di masa lalu menjadikan lokasi ini area strategis bagi kelompok pemburu-pengumpul kuno, meskipun hingga saat ini belum ditemukan sisa jasad hominin yang signifikan di dalam gua tersebut.
Profesor Ron Schimelmitz dari University of Haifa menjelaskan bahwa situs ini mencerminkan proses transisi manusia purba untuk hidup dalam kelompok yang lebih besar. Bukti penggunaan api secara intensif dan aktivitas manusia yang berkepanjangan menunjukkan adanya perubahan perilaku sosial yang mendalam pada akhir era Paleolitik Bawah.
Penemuan ini dinilai sangat berharga karena mengisi celah informasi pada periode 400.000 hingga 200.000 tahun lalu. Penggunaan api secara rutin dan terkendali di situs ini menandai ambang batas penting dalam evolusi yang memungkinkan manusia berkembang menjadi spesies dominan di bumi.