
KETUA Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa Republik Islam Iran berada dalam posisi siaga untuk melakukan pertahanan total. Pernyataan keras ini muncul sebagai respons atas tindakan Amerika Serikat (AS) yang dinilai mengingkari nota kesepahaman (MoU) penghentian permusuhan yang baru saja disepakati.
Ghalibaf menyampaikan sikap tegas tersebut saat menerima kunjungan Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, di Teheran, Iran, pada Jumat (10/7/2026). Ia menekankan bahwa Iran tidak akan tinggal diam jika kedaulatannya terancam oleh pengingkaran komitmen internasional.
“Kami tidak pernah berhenti membela negara kami. Setiap saat Amerika mengingkari nota kesepahaman, kami akan siap untuk pertahanan total,” tegas Ghalibaf di hadapan delegasi Indonesia.
Situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Komando Pusat AS (CENTCOM) melancarkan serangan ke wilayah Iran pada pekan ini. Pihak Washington mengeklaim serangan tersebut merupakan balasan atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
Menanggapi serangan tersebut, pasukan Iran melakukan aksi balasan dengan menyasar sejumlah pangkalan militer milik Amerika Serikat yang berada di Kuwait, Bahrain, dan Yordania. Baku balas serangan ini menandai pecahnya konflik terbuka kedua antara kedua negara sejak Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad disepakati pada pertengahan Juni 2026.
Gencatan Senjata Berakhir
Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden AS Donald Trump secara eksplisit menyatakan bahwa kesepakatan damai sudah tidak berlaku. Pada Kamis (9/7/2026), Trump menegaskan bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran telah berakhir, yang secara otomatis meningkatkan risiko perang skala besar.
Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan agar semua pihak menahan diri guna mencegah situasi semakin memburuk. Pezeshkian menuding AS dan Israel sengaja melakukan tindakan provokatif yang dapat merusak stabilitas kawasan.
Catatan Konflik:
- Juni 2026: Penandatanganan MoU Islamabad untuk mengakhiri operasi militer.
- Juli 2026: AS menyerang Iran dengan alasan keamanan Selat Hormuz.
- 9 Juli 2026: Donald Trump menyatakan gencatan senjata tidak berlaku lagi.
- 10 Juli 2026: Iran menyatakan kesiapan pertahanan total saat pertemuan dengan Ketua MPR RI.
Hingga saat ini, komunitas internasional terus memantau perkembangan di Teheran dan Washington, mengingat eskalasi ini melibatkan pangkalan militer AS di beberapa negara tetangga Iran yang dapat memicu krisis keamanan regional yang lebih luas.