
Jakarta – Makan sendirian mungkin terlihat seperti kebiasaan sederhana yang tidak berbahaya. Namun, sebuah tinjauan penelitian menemukan bahwa terlalu sering makan tanpa teman, khususnya pada kelompok lanjut usia, dapat berkaitan dengan memburuknya kondisi fisik dan mental.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal Appetite. Peneliti dari Flinders University, Australia, menganalisis 24 penelitian yang dilakukan selama sekitar dua dekade untuk melihat hubungan antara kebiasaan makan sendiri dan kondisi kesehatan lansia.
Dikutip dari DailyMailUK, hasil tinjauan menunjukkan bahwa lansia yang terbiasa makan seorang diri memiliki risiko lebih tinggi mengalami frailty. Kondisi ini menggambarkan keadaan ketika kekuatan dan kemampuan tubuh menurun sehingga seseorang menjadi lebih rentan terhadap berbagai masalah kesehatan.
Salah satu faktor yang diduga berperan adalah perubahan pola makan. Ketika tidak makan bersama orang lain, seseorang cenderung kehilangan dorongan sosial untuk menyiapkan makanan bergizi dan menjaga jadwal makan.
Asupan protein bisa ikut menurun
Peneliti menemukan adanya kecenderungan penurunan konsumsi protein pada orang yang lebih sering makan sendirian. Dalam salah satu temuan yang dianalisis, asupan protein turun dari sekitar 58 gram menjadi 51 gram per hari seiring semakin seringnya seseorang makan sendiri.
Padahal, protein dibutuhkan untuk mempertahankan massa dan kekuatan otot. Jika asupan protein tidak mencukupi dalam jangka panjang, lansia berisiko mengalami kehilangan massa otot, tubuh menjadi lebih lemah, dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari dapat menurun.
Selain protein, pola makan lansia yang makan sendirian juga cenderung kurang beragam. Konsumsi buah dan sayuran dapat berkurang, sementara makanan praktis lebih sering menjadi pilihan.
Lebih sering memilih makanan siap saji
Kebiasaan makan seorang diri juga dikaitkan dengan meningkatnya konsumsi makanan siap saji. Salah satu penelitian yang ditinjau di Swedia menemukan bahwa lansia yang makan sendiri mengonsumsi makanan siap saji sekitar empat kali lebih sering dibandingkan mereka yang makan bersama orang lain.
Makanan siap saji umumnya lebih tinggi kandungan garam, gula, atau lemak tertentu. Jika dikonsumsi terlalu sering, pola tersebut dapat berkontribusi terhadap sejumlah faktor risiko penyakit kronis, termasuk tekanan darah tinggi.
Ada pengaruh dari sisi sosial dan psikologis
Makan bersama tidak hanya berkaitan dengan pilihan menu. Aktivitas tersebut juga menciptakan rutinitas sosial yang dapat mendorong seseorang untuk makan secara lebih teratur.
Menurut peneliti, ketika seseorang selalu makan sendiri, isyarat sosial yang biasanya muncul saat makan bersama ikut menghilang. Kondisi tersebut dapat memengaruhi nafsu makan sekaligus motivasi untuk memilih makanan yang lebih bergizi.
Aspek sosial ini menjadi penting terutama pada lansia yang berisiko mengalami kesepian atau berkurangnya interaksi dengan orang lain.
Apa itu frailty?
Frailty merupakan sindrom yang ditandai dengan menurunnya kekuatan, daya tahan, serta kemampuan tubuh menghadapi tekanan. Lansia yang mengalami kondisi ini lebih rentan terhadap jatuh, disabilitas, dan kehilangan kemandirian.
Kondisi tersebut juga dapat berjalan bersamaan dengan berbagai penyakit kronis, termasuk penyakit jantung, kanker, gangguan pernapasan, dan demensia. Sejumlah penelitian bahkan telah menghubungkan isolasi sosial dengan perubahan pada otak yang berkaitan dengan risiko gangguan kognitif.
Makan bersama bisa menjadi langkah sederhana
Berdasarkan temuan tersebut, peneliti menyarankan tenaga kesehatan untuk turut menanyakan kebiasaan makan pasien lansia ketika melakukan pemeriksaan. Informasi mengenai apakah seseorang sering makan sendiri dapat membantu memberikan gambaran mengenai pola makan dan kondisi sosialnya.
Keluarga juga dapat mengambil peran dengan mengajak anggota keluarga yang lebih tua untuk makan bersama secara rutin. Kebiasaan sederhana ini bukan hanya membantu menciptakan interaksi sosial, tetapi juga dapat menjadi kesempatan untuk memastikan makanan yang dikonsumsi lebih beragam dan bernutrisi.
Meski penelitian banyak menyoroti kelompok lansia, makan bersama tetap dapat menjadi kebiasaan positif bagi berbagai kelompok usia karena memberikan kesempatan untuk menjaga pola makan sekaligus mempererat hubungan sosial.